SULBARPEDIA.COM, Mamuju – Kondisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Majene kian memprihatinkan. Meski harga masih tergolong normal, masyarakat justru kesulitan mendapatkannya. Situasi ini disoroti Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Majene yang menyebutnya sebagai fenomena “mencari jarum di jerami”.
Di lapangan, antrean kendaraan di sejumlah SPBU terlihat mengular hingga ke badan jalan. Kondisi ini bahkan telah menjadi rutinitas harian yang menyulitkan warga.
Tak hanya itu, antrean panjang diperparah oleh maraknya pembelian BBM menggunakan jeriken dalam jumlah besar. Praktik ini dinilai membuat stok cepat habis, sehingga masyarakat yang hanya ingin mengisi tangki kendaraan harus menunggu lama atau bahkan tidak kebagian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kondisi ini jelas tidak adil. Harga memang normal, tapi aksesnya dipersulit oleh lemahnya pengawasan,” ujar Kadi, Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Majene, Rabu (04/04/2026).
HMI Cabang Majene menilai, persoalan ini dipicu oleh distribusi yang tidak merata, dominasi pembelian dalam jumlah besar, serta kepanikan masyarakat yang memicu aksi pemborongan setiap kali stok tersedia.
Lebih jauh, ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk kegagalan pelayanan publik karena hak masyarakat untuk mendapatkan energi tidak terpenuhi secara adil.
Menyikapi hal tersebut, HMI Cabang Majene mendesak Pemerintah Daerah Majene segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM. Aparat keamanan juga diminta memperketat pengawasan di SPBU serta menindak tegas oknum yang melakukan penimbunan.
Selain itu, DPRD Majene didorong untuk melakukan pengawasan dan memanggil pihak terkait guna mencari solusi konkret atas persoalan ini.
HMI menegaskan, jika tidak ada perbaikan dalam waktu dekat, pihaknya siap mengambil langkah lanjutan sebagai bentuk perjuangan terhadap hak masyarakat.
(Adm)











