SULBARPEDIA.COM,- Tenun Sekomandi merupakan kain khas warga Kalumpang di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Sekomandi merupakan ragam motif tertua di dunia.
Kain tenun Sekomandi ini bahkan dipercaya telah berusia tahun. Saat ini Sekomandi juga banyak dibuat dalam produk baru, di antaranya pakaian, selendang, dompet hingga produk lainnya dengan harga bervariasi.
Untuk menghasilkan kain Sekomandi, biasanya dibutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Hal ini juga yang menyebabkan kain tenun sekomandi tidak bisa diproduksi dalam jumlah massal sekaligus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warna tenun sekomandi sendiri sebagian besar didominasi warna cokelat merah dan krem, dengan didasari warna hitam.
Berikut ini penjelasan lengkap mengenai kain Sekomandi yang patut diketahui sebagaimana dihimpun sulbarpediacom dari berbagai sumber:
Sejarah Tenun Sekomandi
Sekomandi berasal dari dua kata, yaitu “Seko” yang berarti persaudaraan atau kekeluargaan atau rumpun keluarga, dan “Mandi'” yang berarti kuat atau erat.
Sekomandi dapat dimaknai sebagai “Ikatan persaudaraan atau kekeluargaan yang kuat dan erat”. Pada jaman dahulu, selain dibuat untuk kepentingan sendiri, kain tenun Sekomandi merupakan alat tukar yang bernilai tinggi.
Dilansir dari laman 1001Indonesia, menurut cerita turun-temurun, kain ini bermula saat salah seorang nenek moyang orang Kalumpang, bernama Undai Kasalle, berburu di hutan belantara. Ia kemudian menemukan selembar daun besar di sebuah goa.
Daun tersebut kemudian dibawanya dan diperlihatkan kepada istrinya di rumah. Sang istri kemudian mendapat petunjuk untuk membuat kain tenun. Kain itulah yang kini dikenal sebagai tenun Sekomandi.
Kain ini lantas menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi, terutama pada kaum perempuan keturunan Undai Kasalle. Kain ini kemudian menjadi warisan budaya masyarakat Kalumpang, juga sebagai salah satu kebanggan masyarakat Kabupaten Mamuju.
Proses Pembuatan Tenun Sekomandi
Pembuatan kain Sekomandi dilakukan dengan beberapa proses tahapan. Tenun Sekomandi ditenun secara tradisional dan menggunakan bahan pewarna dari berbagai jenis tanaman, seperti jahe, lengkuas, cabai, kapur sirih, laos, kemiri, juga beragam dedaunan, akar pohon, serta kulit kayu, kemudian ditumbuk halus dan dimasak.
Untuk mendapatkan warna yang benar-benar bagus, benang direndam berulang-ulang dalam larutan pewarna selama satu bulan sehingga memperkuat warna dan agar warna tidak mudah luntur.
Proses pembuatan kain tenun Sekomandi memang membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga pengrajin harus memiliki keahlian dan itu didapatkan masyarakat Kalumpang secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Pada dasarnya proses pembuatan kain Sekomandi terbagi menjadi tiga yakni pemintalan, pewarnaan benang, dan penenunan. Bahan baku kapas yang dipakai dalam pembuatan kain tenun Sekomandi ini diperoleh dari daerah Kalumpang. Kapas di panen sekitar 6-7 bulan setelah di tanam.
Salah satu bagian penting dalam proses tenun tradisional Sekomandi di Desa Batuisi Kecamatan Kalumpang adalah Mangngunu’ (Pemintalan). Proses ini adalah proses pemintalan kapas menjadi benang dengan cara amat tradisional.
Bahan perwarnaan kain tenun Sekomandi menggunakan pewarna alami dari berbagai jenis tanaman. Teknik pewarnaannya juga melalui beberapa tahap yaitu, pewarnaan dasar pada benang selama 14 hari, dan pewarnaan motif yang dilakukan tahap demi tahap tidak bisa sekaligus. Lalu penenunan kain Sekomandi dilakukan dengan menggunkan alat tenun tradisional (gedogan).
Motif Tenun Sekomandi
Bentuk dasar motif tenun Sekomandi adalah belah ketupat, perisai, garis beraturan, hingga bentuk seperti kepiting dan orang-orangan. Bentuk-bentuk ini ditampilkan dengan warna yang cenderung tegas sekaligus kalem dengan memadukan warna jingga, merah, cokelat, hijau, krem, dan kuning.
Motif – motif yang dibuat oleh penenun memiliki jenis dan makna tersendiri. Diantaranya ada motif Ba’ba Diata, Lele Sepu Ulu Karua Lepo, Ulu Karua Barinni Pori Dappu, Tosso’ Balekoan, Tonoling, dan motif Toboalang.
(adv/adm)











