Mengenal Kain Tenun Sekomandi: Sejarah, Proses Pembuatan dan Motif

- Jurnalis

Minggu, 21 Mei 2023 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SULBARPEDIA.COM,- Tenun Sekomandi merupakan kain khas warga Kalumpang di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Sekomandi merupakan ragam motif tertua di dunia.

Kain tenun Sekomandi ini bahkan dipercaya telah berusia tahun. Saat ini Sekomandi juga banyak dibuat dalam produk baru, di antaranya pakaian, selendang, dompet hingga produk lainnya dengan harga bervariasi.

Untuk menghasilkan kain Sekomandi, biasanya dibutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Hal ini juga yang menyebabkan kain tenun sekomandi tidak bisa diproduksi dalam jumlah massal sekaligus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warna tenun sekomandi sendiri sebagian besar didominasi warna cokelat merah dan krem, dengan didasari warna hitam.

Berikut ini penjelasan lengkap mengenai kain Sekomandi yang patut diketahui sebagaimana dihimpun sulbarpediacom dari berbagai sumber:

Sejarah Tenun Sekomandi

Sekomandi berasal dari dua kata, yaitu “Seko” yang berarti persaudaraan atau kekeluargaan atau rumpun keluarga, dan “Mandi'” yang berarti kuat atau erat.

Sekomandi dapat dimaknai sebagai “Ikatan persaudaraan atau kekeluargaan yang kuat dan erat”. Pada jaman dahulu, selain dibuat untuk kepentingan sendiri, kain tenun Sekomandi merupakan alat tukar yang bernilai tinggi.

Dilansir dari laman 1001Indonesia, menurut cerita turun-temurun, kain ini bermula saat salah seorang nenek moyang orang Kalumpang, bernama Undai Kasalle, berburu di hutan belantara. Ia kemudian menemukan selembar daun besar di sebuah goa.

Daun tersebut kemudian dibawanya dan diperlihatkan kepada istrinya di rumah. Sang istri kemudian mendapat petunjuk untuk membuat kain tenun. Kain itulah yang kini dikenal sebagai tenun Sekomandi.

Kain ini lantas menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi, terutama pada kaum perempuan keturunan Undai Kasalle. Kain ini kemudian menjadi warisan budaya masyarakat Kalumpang, juga sebagai salah satu kebanggan masyarakat Kabupaten Mamuju.

Proses Pembuatan Tenun Sekomandi

Pembuatan kain Sekomandi dilakukan dengan beberapa proses tahapan. Tenun Sekomandi ditenun secara tradisional dan menggunakan bahan pewarna dari berbagai jenis tanaman, seperti jahe, lengkuas, cabai, kapur sirih, laos, kemiri, juga beragam dedaunan, akar pohon, serta kulit kayu, kemudian ditumbuk halus dan dimasak.

Untuk mendapatkan warna yang benar-benar bagus, benang direndam berulang-ulang dalam larutan pewarna selama satu bulan sehingga memperkuat warna dan agar warna tidak mudah luntur.

Proses pembuatan kain tenun Sekomandi memang membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga pengrajin harus memiliki keahlian dan itu didapatkan masyarakat Kalumpang secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Pada dasarnya proses pembuatan kain Sekomandi terbagi menjadi tiga yakni pemintalan, pewarnaan benang, dan penenunan. Bahan baku kapas yang dipakai dalam pembuatan kain tenun Sekomandi ini diperoleh dari daerah Kalumpang. Kapas di panen sekitar 6-7 bulan setelah di tanam.

Salah satu bagian penting dalam proses tenun tradisional Sekomandi di Desa Batuisi Kecamatan Kalumpang adalah Mangngunu’ (Pemintalan). Proses ini adalah proses pemintalan kapas menjadi benang dengan cara amat tradisional.

Bahan perwarnaan kain tenun Sekomandi menggunakan pewarna alami dari berbagai jenis tanaman. Teknik pewarnaannya juga melalui beberapa tahap yaitu, pewarnaan dasar pada benang selama 14 hari, dan pewarnaan motif yang dilakukan tahap demi tahap tidak bisa sekaligus. Lalu penenunan kain Sekomandi dilakukan dengan menggunkan alat tenun tradisional (gedogan).

Motif Tenun Sekomandi

Bentuk dasar motif tenun Sekomandi adalah belah ketupat, perisai, garis beraturan, hingga bentuk seperti kepiting dan orang-orangan. Bentuk-bentuk ini ditampilkan dengan warna yang cenderung tegas sekaligus kalem dengan memadukan warna jingga, merah, cokelat, hijau, krem, dan kuning.

Motif – motif yang dibuat oleh penenun memiliki jenis dan makna tersendiri. Diantaranya ada motif Ba’ba Diata, Lele Sepu Ulu Karua Lepo, Ulu Karua Barinni Pori Dappu, Tosso’ Balekoan, Tonoling, dan motif Toboalang.

(adv/adm)

Berita Terkait

Sigap dan Responsif, RSUD Sulbar Evakuasi Pasien ke Area Aman Pascagempa Palu
Gubernur SDK Resmikan Kantor Taspen Mamuju, Pasca Gempa 2021 Kini Kembali Beroperasi
Peringati Hari Kesadaran Nasional, Pemprov Sulbar Tekankan Disiplin dan Percepatan Program
BPBD Sulbar Imbau Masyarakat Tetap Tenang Pascagempa M6,7 di Palu
Nonton Bareng Piala Dunia 2026, Kominfo Sulbar: Hati-Hati Aplikasi Palsu dan Jaga Ketertiban
RSUD Sulbar Raih Nilai Kematangan Inovasi 97,00 pada IID 2025, Perkuat Pelayanan melalui Inovasi MALABBI
DPRD Sulbar Jadi Rujukan DPRD Pinrang, Bahas Optimalisasi Fungsi Bamus dalam Penyusunan Agenda Dewan
Sulbar Raih WTP ke-12 Kalinya, Gubernur Suhardi Duka Tegaskan Komitmen Penuh Tindak Lanjuti Rekomendasi BPK RI

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 10:36 WIB

Gubernur SDK Resmikan Kantor Taspen Mamuju, Pasca Gempa 2021 Kini Kembali Beroperasi

Kamis, 18 Juni 2026 - 07:07 WIB

Ketua MA Terima Audiensi SMSI Bahas Budaya Mediasi

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:20 WIB

Peringati Hari Kesadaran Nasional, Pemprov Sulbar Tekankan Disiplin dan Percepatan Program

Senin, 15 Juni 2026 - 19:24 WIB

Nonton Bareng Piala Dunia 2026, Kominfo Sulbar: Hati-Hati Aplikasi Palsu dan Jaga Ketertiban

Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:27 WIB

Dinamika Politik Kian Sentral, Ketum SMSI Pusat Firdaus Minta Media Siber Daerah Jaga Independens

Jumat, 12 Juni 2026 - 15:36 WIB

RSUD Sulbar Raih Nilai Kematangan Inovasi 97,00 pada IID 2025, Perkuat Pelayanan melalui Inovasi MALABBI

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:29 WIB

DPRD Sulbar Jadi Rujukan DPRD Pinrang, Bahas Optimalisasi Fungsi Bamus dalam Penyusunan Agenda Dewan

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:34 WIB

Sulbar Raih WTP ke-12 Kalinya, Gubernur Suhardi Duka Tegaskan Komitmen Penuh Tindak Lanjuti Rekomendasi BPK RI

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Ketua MA Terima Audiensi SMSI Bahas Budaya Mediasi

Kamis, 18 Jun 2026 - 07:07 WIB

x