Darurat Bullying Semakin Mengkhawatirkan

- Jurnalis

Rabu, 26 November 2025 - 10:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Hamzinah (Pustakawan & Pegiat Media Sosial)

SULBARPEDIA.COM, – Kasus perundungan (bullying) kembali mengguncang Indonesia. Insiden ledakan di SMA 72 Jakarta yang terjadi saat pelaksanaan salat Jumat dan melukai puluhan siswa membuka mata kita tentang betapa rapuhnya kondisi generasi hari ini. Polisi telah mengamankan seorang siswa berusia 17 tahun sebagai tersangka, dengan dugaan bahwa aksi nekat tersebut dipicu oleh rasa dendam akibat bullying yang dialaminya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perundungan bukan sekadar tindakan jahil, melainkan ancaman serius terhadap keselamatan dan kesehatan mental peserta didik.

Tragedi serupa juga terjadi di Universitas Udayana, di mana seorang mahasiswa diduga mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan dan perundungan di lingkungan kampus. Dunia pendidikan—yang seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh—justru berubah menjadi arena yang melahirkan luka dan kehilangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasus lainnya muncul di Blora. Fakta bahwa pelaku bullying di sebuah SMP ternyata pernah menjadi korban perundungan saat SD menguatkan bahwa bullying adalah luka estafet yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika luka itu tidak ditangani, korban bisa berubah menjadi pelaku.

Rangkaian peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai kasus kriminal biasa. Ia adalah cerminan rapuhnya sistem pendidikan sekuler yang hanya menitikberatkan pada nilai akademik, peringkat, serta akreditasi, sambil mengabaikan pembentukan kepribadian dan kekuatan spiritual sebagai fondasi karakter.

Sistem pendidikan yang terpisah dari nilai-nilai Ilahi membuat peserta didik kehilangan arah, kendali diri, dan ketangguhan mental. Tuntutan akademik yang berat tidak diimbangi dengan pembinaan ruhiyah yang meneguhkan identitas mereka sebagai hamba Allah. Tanpa landasan spiritual yang kokoh, tekanan sekecil apa pun dapat menjadi pemantik masalah besar.

Negara pun sering kali gagal memberikan perlindungan optimal. Banyak kasus bullying dianggap sekadar persoalan internal sekolah. Minimnya sanksi tegas membuat budaya impunitas tumbuh, sehingga pelaku merasa aman dan korban terus menderita.

Islam hadir bukan hanya sebagai ajaran moral, tetapi sebagai sistem kehidupan yang paripurna. Sistem pendidikan dalam Islam dibangun di atas akidah Islam, yang membentuk sudut pandang unik dalam memandang diri, sesama, dan kehidupan.

Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak diposisikan sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai sarana wajib negara untuk mencetak manusia beriman, berilmu, dan berkepribadian Islam. Tujuannya jelas: melahirkan insan yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islami, berakhlak mulia, serta cerdas dalam intelektual dan emosional.

Negara dalam sistem Islam wajib menyelenggarakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi semua rakyat tanpa diskriminasi. Menuntut ilmu adalah hak dasar setiap individu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Masyarakat dalam sistem Islam hidup dengan budaya amar makruf nahi mungkar. Ketika ada perilaku merendahkan atau menyakiti, mereka tidak diam. Budaya ini membangun ekosistem sosial yang mencegah lahirnya perundungan sejak dini.

Negara wajib menjamin keamanan setiap warga, termasuk pelajar. Sistem hukum Islam melalui ta’zir memberikan ruang bagi hakim untuk menjatuhkan sanksi yang proporsional, mendidik, dan memberi efek jera. Para pemimpin lembaga pendidikan pun harus dipilih dari orang-orang yang kokoh akhlaknya, bukan semata memenuhi persyaratan administratif.

Demikianlah, Islam menawarkan solusi yang sistemis dan menyentuh akar persoalan, bukan sekadar meredam gejala permukaan. Selama nilai-nilai Ilahi tidak dijadikan fondasi pendidikan dan kehidupan, maka krisis karakter akan terus berulang. Bullying, kekerasan, dan rapuhnya mental generasi hanyalah sebagian dari buah pahit sistem yang gagal membina manusia secara utuh.

Hanya dengan kembali kepada aturan Allah SWT, generasi dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

(Adm)

Berita Terkait

Konsep Kafir Dalam Konteks Keislaman dan Kebangsaan
Moderasi Hukum Keluarga Islam Dalam Filsafat Hukum Islam
KAMMI Mamuju Raya Soroti Peredaran Miras di Mamuju
Ironi di Tanah Subur Mamasa: Potensi Emas yang Terpasung Akses dan Keengganan Regenerasi
Balang Nipa – Passokkorang: Sejarah dan Konflik Kerajaan
Peran DSN-MUI Dalam Meningkatkan Literasi Keuangan Syariah di Masyarakat
Rukun dan Syarat Nikah: Antara Kepatuhan Syariat dan Tradisi Sosial
Sosioteologi Hak dan Kewajiban Suami istri dalam Hukum Islam

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:38 WIB

Warga Terbaring Sakit, BKTM Budong Budong Hadir Membawa Kepedulian

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:29 WIB

Polres Mamuju Tengah Gelar Anev Tingkatkan Profesionalisme Perkuat Kinerja Bhabinkamtibmas

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:53 WIB

Saat Patroli Sat Samapta Polres Mamuju Tengah Datang Membawa Pertolongan Kebakaran di Bulorembu

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:33 WIB

Peran Aktif BKTM, Sengketa Lahan Berakhir dengan Kesepakatan Damai

Senin, 27 Juli 2026 - 17:03 WIB

Menjaga Laut Tetap Aman, Sat Polairud Polres Mateng Mengawal Aktivitas Nelayan Hingga Pesisir Terjaga

Senin, 27 Juli 2026 - 16:58 WIB

Menembus Gelapnya Malam, Polsek Topoyo Hadir Cegah Gangguan Kamtibmas Hingga Pelosok Wilayah

Senin, 27 Juli 2026 - 12:16 WIB

Perkuat Kamtibmas dan Toleransi Antar Warga, BKTM Tinali Sambangi Masyarakat Binaan

Senin, 27 Juli 2026 - 12:09 WIB

Satlantas Polres Mateng Hadir Lewat Blue Light Patrol Ciptakan Rasa Aman Dimalam Hari

Berita Terbaru

Oplus_131072

Mamuju Tengah

Bupati Arsal Aras Menyerahkan SK Perangkat Desa Se-Kab.Mamuju Tengah

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:57 WIB

Berita Terbaru

Warga Terbaring Sakit, BKTM Budong Budong Hadir Membawa Kepedulian

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:38 WIB

Berita Terbaru

Peran Aktif BKTM, Sengketa Lahan Berakhir dengan Kesepakatan Damai

Selasa, 28 Jul 2026 - 11:33 WIB

x