SULBARPEDIA.COM, – Memperingati hari jadi Mamuju ke 481 tahun dan Hari Ulang Tahun (HUT) Dewan Kesenian dan Kebudayaan Mamuju (DKKM) ke-3 tahun, maka digelarlah konser mini bertema “Manakarra Pembolonganta”.
Konser tersebut mempersebahkan lagu-lagu berbahasa Tampalang, Kalumpang dan Mamuju dengan aransemen musik paduan tradisional dan modern. Acara tersebut digelar dikawasan Rumah Adat Mamuju, Selasa malam 13/07/21.
Ketua DKKM Irwan Satya Putra Pababari mengatakan, persembahan untuk Mamuju yang dihelat dalam mini konser DKKM tersebut, mulanya hanya keinginan kecil untuk tetap mengemas sesuatu pada Mamuju yang kini berusia 481 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seiring bergulirnya waktu, komite-komite dalam DKKM kemudian merumuskan kegiatan yang lalu menjadi mini konser. Komiste Musik, Fashion, Sastra, Simetografi dan Seni Rupa, kemudian mengemasnya dengan mempersembahkan lagu-lagu daerah berbahasa Tampalang, Kalumpang dan Mamuju dengan aransemen musik kolaborasi tradisional dan modern.
“Karena pandemi, kami batasi undangan. Agar tetap bisa dinikmati secara luas, solusinya kami live streaming atau siaran langsung di akun sosial media DKKM. Jadi ini juga bisa disebut virtual konser,” papar Irwan.
Bahwa usia Mamuju yang menginjak angka 481 tahun adalah matarantai yang begitu panjang dengan puspa ragam cerita. Dari jejak perjalanan tersebut banyak produk-produk kebudayaan yang dihasilkan salah satunya adalah kain tenun.
Dari produk tersebut kita memahami keahlian leluhur memintal tetumbuhan menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain.
“Hasilnya, ada semomandi, lipa’ saqbe dan anyaman-anyaman lainnya baik dari dari rotan, bambu dan kulit gaba-gaba,” jelasnya.
Kekayaan produk-produk kebudayaan tersebut akan tergerus jika tak serius melestarikannya. Karena itu, Irwan, mengaku sependapat dengan tema hari jadi Mamuju tahun ini, yakni Meningkatkan Kebudayaan dan Menumbuhkan Kearifan Lokal Menuju Mamuju yang Lebih Keren.
Tetapi, lanjut Irwan, lebih keren lagi jika semua pihak bisa mengenal produk kebudayaan dimasa lampau yang penuh dengan makna kehidupan dan menjadikan itu sebagai landasan untuk merumuskan pembangunan daerah dan menelorkan kebijakan.
“Kebudayaan tidak membuat kita terbelakang, melainkan itu adalah khasanah pengayaan bagi diri kita untuk menghadapi masa-masa yang akan datang,” pungkas Irwan.
(Lis/Lal)











