Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat dikenal sebagai wilayah pegunungan yang diberkahi hamparan tanah subur di ketinggian 600-2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karunia alam ini menjadikan Mamasa laksana surga bagi dunia perkebunan. Mulai dari segarnya sayur-sayuran, legitnya buah-buahan seperti durian, manggis, nanas, dan alpukat, hingga komoditas perkebunan bernilai tinggi seperti kopi, kakao, dan cengkeh—semuanya tumbuh subur di tanah ini.
Peluang emas ini semakin terbuka lebar seiring dengan rampungnya jalan nasional yang membelah jantung Sulawesi Barat. Jalur ini menghubungkan Mamuju (ibu kota provinsi) melintasi sejumlah kecamatan di Mamasa, lalu tersambung ke Polewali Mandar hingga menembus Kabupaten Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Secara geografis dan logistik, infrastruktur ini adalah “karpet merah” bagi sektor perkebunan Mamasa untuk melejit.
Wilayah Tiga: Calon Penopang Logistik Ibu Kota dan Kalimantan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika kita menengok ke Wilayah Tiga—yang mencakup Kecamatan Tabulahan, Buntu Malangka, Aralle, Mambi, Bambang, Mehalaan dan Rante Bulahan Timur—mayoritas warganya menggantungkan hidup dari bertani sawah, berkebun kakao, kopi, buah-buahan seperti durian, manggis juga ada nanas dan beberapa tanaman lainnya.
Dengan posisi strategis jalur nasional saat ini, Wilayah Tiga sebenarnya sangat ideal untuk bertransformasi menjadi penopang utama (penyangga) kebutuhan pangan dan perkebunan untuk Ibu Kota Provinsi di Mamuju yang saat ini mulai banyak kehilangan lahan perkebunan dan pertanian seiring kebutuhan pada pembangunan inprastruktur perkotaan. Bahkan, dengan jarak tempuh yang singkat ke dermaga pelabuhan di Mamuju, tidak menutup kemungkinan produk bumi dari Wilayah Tiga ini bisa melintasi selat untuk menyuplai kebutuhan di Pulau Kalimantan.
Namun, realita hari ini justru berbicara sebaliknya. Potensi besar tersebut masih jauh dari kata terkelola dengan maksimal.
Sebuah ironi besar sedang terjadi: Mamasa yang subur, justru harus mendatangkan kebutuhan sayur-sayuran dari Kabupaten Mamuju dan Polewali Mandar, yang mana produk-produk tersebut sebenarnya dipasok dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Mengapa daerah yang tanahnya begitu ramah terhadap tanaman justru menjadi konsumen di rumah sendiri?
Jeratan Akses Jalan Tani dan Krisis Regenerasi
Jika dibedah, ada dua akar masalah utama yang saling mengikat. Pertama, adalah runtuhnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian. Pemuda hari ini cenderung enggan melirik sektor perkebunan karena menganggapnya tidak menjanjikan secara ekonomi dan melelahkan secara fisik. Tidak sedikit memilih bekerja di luar daerah di sektor informal.
Kedua, yang menjadi pemicu utamanya, adalah hancurnya akses transportasi menuju lahan (jalan tani). Bagaimana anak muda mau turun ke kebun jika untuk mencapai lahan saja mereka harus bertaruh tenaga dan keselamatan?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jalan-jalan tani yang memadai hampir tidak tersedia. Lahan-lahan subur milik warga sering kali terisolasi oleh aliran sungai. Jembatan yang menjadi satu-satunya urat nadi penyeberangan hanyalah jembatan gantung yang kondisinya sudah rusak parah.
Jembatan-jembatan ini sama sekali tidak dirancang untuk bisa dilalui oleh kendaraan, bahkan untuk kendaraan roda dua sekalipun.
Akibatnya, terjadi efek domino yang melumpuhkan ekonomi warga:
• Biaya Angkut Mahal: Petani harus memikul hasil panen dengan berjalan kaki melintasi medan yang berat.
• Pembeli Enggan Datang: Tengkulak atau pembeli dari luar yang membawa kendaraan tidak bisa langsung mengakses lokasi panen. Sayuran yang sifatnya mudah membusuk akhirnya rusak sebelum sempat dipasarkan.
• Minimnya Pembinaan: Kondisi ini diperparah dengan hampir tidak adanya pendampingan dan pembinaan yang serius serta intensif dari dinas terkait. Petani berjalan sendiri tanpa arah dan tanpa sentuhan teknologi modern.
Menagih Kehadiran Penentu Kebijakan
Persoalan di Kecamatan Aralle, Tabulahan, Mambi, dan sekitarnya bukanlah masalah kurangnya kesuburan tanah, melainkan masalah kemauan politik (political will) dari para penentu kebijakan.
Jika pemerintah daerah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi yang riil dari akar rumput, maka fokus utama harus dialihkan ke hilir: bangun jalan tani yang layak, remajakan jembatan-jembatan penyeberangan agar bisa dilalui kendaraan roda dua atau roda empat, dan hadirkan penyuluh pertanian yang aktif mendampingi petani.
Tanpa adanya intervensi infrastruktur dan pembinaan yang serius, kekayaan alam Mamasa hanya akan menjadi cerita pengantar tidur. Sudah saatnya Wilayah Tiga bangkit, bukan lagi sebagai penonton yang menanti pasokan sayur dari luar, melainkan sebagai pemain utama yang memberi makan daerah lain dari hasil peluh di tanahnya sendiri.(*)











