by

Sulbar, Tambang Aren Terbesar Dunia

Oleh : Usman Suhuriah
Wakil Ketua DPRD Sulbar|Fraksi Golkar

Mungkin ini pengandaian tetapi bukan hal tidak mungkin bila berani memulai dari sekarang. Apa itu ? adalah menjadikan Sulawesi Barat sebagai tambang aren dan penghasil gula merah terbesar dunia. Bagaimana kalkulasinya, kebijakannya ?

Sungai-sungai di Sulbar tergolong banyak dan ukurannya panjang-panjang. Itu sebabnya secara historis terdapat 7 Sungai yang tergolong sebagai sungai induk dan memiliki anak-anak sungai yang membentuk muara tersendiri.

Historinya adalah *pitu ulunna salu’ pitu ba’bana binanga* (tujuh hulu sungai tujuh muara sungai). Dan kalkulasinya menjadikan 7 Sungai di Sulbar di sepanjang bantarannya yang tentunya pasti subur dan tanah gembur sebagai wilayah kelola budi daya aren (pohon bogor), sebut saja dengan : *program menanam 2 (dua) juta pohon aren,* maka berdasarkan ini kita akan memiliki tambang air aren (nira) untuk ditanak menjadi gula merah dalam jumlah sangat melimpah. Dengan menghitung minimalnya 1 batang pohon dalam 1 bulan menghasilkan : 3 liter/pohon/hari = 3 x 2.000.000 = 6.000.000 liter/bulan. Rasio terkecil setiap 6.000.000 liter/bulan dikonversi menjadi gula merah = 6 liter/1 kg Gula merah, berarti terdapat 1.000.000 kg gula merah dapat diproduksi setiap bulan. Atau sedikitnya terdapat 72 juta liter/tahun atau 12 juta ton Gula merah/tahun.

Sementara asumsi sederhana untuk angkatan kerja bisa terlibat, misalnya 1 sd 4 pohon aren setiap tenaga penyadap maka sedikitnya terdapat 500.000 angkatan kerja yang terlibat. Angka ini dalam hal angkatan kerja dapat mencover permasalahan pembukaan lapangan kerja bagi peningkatan pendapatan ekonomi warga. Dari sisi angkatan kerja akan membantu dalam pertambahan perputaran ekonomi dalam bentuk produksi dan belanja atau PDRB murni di daerah. Jumlah angkatan kerja yang terlibat adalah dapat menyumbang hingga 50 % jumlah tenaga kerja dari lapangan kerja yang harus tersedia.

Bagi kebijakan yang diperlukan maka budi daya pohon aren dalam program menanam 2 juta aren di wilayah kelola 6 kabupaten sedikitnya terbagi dalam proporsi luasan wilayah. Sehingga proporsi penanaman di masing-masing panjang bantaran Sungai mendapatkan jumlah penanaman sesuai dengan jumlah sungai setiap Kabupaten.

Bagi kebijakan ini, provinsi Sulbar dapat memilihnya sebagai *Crash Program Policy* (kebijakan program cepat). Programnya adalah multipihak dengan perlibatan pemerintah pusat provinsi dan Kabupaten. Kebijakan program ini terkoordinasi dan teritegrasi dengan para pihak. Selain itu, Kebijakan ini menyasari visi daerah untuk mendukung issu penyelamatan lingkungan dengan pemanfaatan tanaman hutan. Selain sebagai komoditi alternatif berfungsi ganda yaitu sebagai tanaman hutan produktif untuk mendukung peningkatan ekonomi, juga sebagai tanaman eko industri untuk pembiakan tanaman hutan produktif pada tutupan hutan berjangka panjang.

Kebijakan ini akan menuntun wilayah Sulbar sebagai satu-satunya daerah yang membangun usaha alternatif dalam dukungan beberapa issu. Disamping sebagai upaya menghidupkan kembali latar sejarah masyarakat Sulbar (mandar) yang mengenali pemanfaatan jalur Sungai secara holistik. Ini dapat dilihat dalam matra kehidupan masyarakat Sulbar (Mandar dahulu) lewat kehendak sejarah *pitu ulunna salu pitu ba’bana binanga* yang menginginkan penjagaan sungai demi kesejahteraan. Problem daerah dalam membangun citra dirinya dalam persaingan antar kawasan juga adalah penting atas dominannya produksi nyaris seragam serta mengarah ke industri jasa.

Sulbar sejatinya memiliki visi mempertahankan kultur alam sebagaimana penguatan ekonomi berbasiskan hasil alam. Komoditi alternatif yang dapat memberikan Kebanggaan daerah di tingkat nasional bahkan di mata dunia dunia tentang terdapat daerah yang memiliki tutupan wilayah dengan jenis tanaman produktif yang “healty “sebagai konsumsi hasil tanaman non kimia yang sehat di masa depan.

Tinggal dilihat apakah terdapat pemimpin di daerah ini yang berani bermimpi untuk selanjutnya mengambil keputusan ini. Berani mengetuk palu dan selanjutnya menegaskan konsensus yang kuat mengenai misi ini sebagai misi masa depannya. Sebagai upaya untuk terus menemukan isu kunci bagi kebutuhan penting daerah ini dalam mendapatkan kemajuan ekonomi dan harga diri daerahnya.

Tentunya andai mimpi ini bisa terlaksana bukan mustahil pada saatnya Sulbar menjadi penghasil tamban aren yang melimpah untuk selanjutnya menjadi penghasil gula merah terbesar dunia. Way not ?

 

(@#)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed