Tradisi Mammanusang Rai’ di Pulau Karampuang: Sejarah, Pelaksanaan dan Tujuannya

- Jurnalis

Selasa, 23 Mei 2023 - 17:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Pulau Karampuang, foto: dok.kemenkeu)

(Pulau Karampuang, foto: dok.kemenkeu)

SULBARPEDIA.COM,- Warga yang mendiami Pulau Karampuang di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) memiliki satu ritual bernama Mammanusang Rai’. Tradisi ini dilakukan pada bulan Agustus setiap tahunnya dengan maksud untuk menolak bala.

Mammanusang Rai‟ merupakan upacara adat yang dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang yaitu untuk menolak bala dalam arti dijauhkan segala musibah yang ada di kampung tersebut.

Tradisi ini tepatnya dilakukan warga yang berada di Dusun Ujung Bulo, Desa Karampuang, Kecamatan Simboro, Mamuju. Warga meyakini tradisi ini untuk menolak bala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikut ini penjelasan lengkap mengenai tradisi Mammanusang Rai’ yang patut diketahui sebagaimana dihimpun sulbarpediacom dari berbagai sumber

Sejarah Mammanusang Rai’

Dilansir dari jurnal Universitas Muhammadiyah Makassar berjudul ‘Ritual Tradisi Mammanusang Rai’ Dalam Perspektif Pendidikan Islam di Dusun Ujung Bulo Desa Karampuang Kabupaten Mamuju’ disebutkan Mammanusang Rai‟ merupakan upacara adat yang dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang yaitu untuk menolak bala dalam arti dijauhkan segala musibah yang ada di kampung tersebut.

Ketua adat setempat, Ismail mengatakan bahwa Awal mula dilaksanakan tradisi Mammanusang Rai itu sudah ada semenjak nenek moyang mereka masih hidup dan dilaksanakan secara turun-temurun.

Sehingga sampai saat ini dalam pelaksanaannya hanya bersifat melanjutkan saja baik yang berhubungan dengan tatacara pelaksanaan upacaranya maupun niat tujuannya.

Dengan meneruskan tradisi Mammanusang Rai masyarakat desa Karampuang menghargai nilai-nilai luhur yang sudah menjadi tradisi di masyarakat. Adapun yang melatar belakangi adanya tradisi Mammanusang Rai ini.

“Pernah suatu malam saya bermimpi didatangi orang tua bersurban putih dan memberi peringatan kepada saya ini menandakan bahawa ada pelanggaran yang kami langgar dikampung ini yaitu tidak melaksanakan ritual tersebut‟ terang Ismail sebagaiman dilihat sulbarpediacom dari jurnal tersebut.

Perayaan ini biasa dilaksanakan warga desa Karampuang setahun sekali. yaitu pada bulan Agustus. Tempat pelaksanaannya ada 3 tempat.

“Awalnya sesajian tersebut dibawa ke bukit yang tertinggi di area tersebut yang dipimpin oleh ketua adat, kemudian berpindah ketempat yang kedua yaitu di sumur Kapal, sumur yang dianggap keramat bagi warga setempat,” jelas Ismail.

“Kemudian ritual yang terpenting atauterakhir yaitu semua sesajian yang dibawa di dua tempat sebelumnya dinaikan diatas rakit yang sudah disiapkan untuk ritual tersebut dan ketua adat memimpin do‟a dan menghanyutkannya ke laut,” tambahnya.

Pelaksanaan Mammanusang Rai’

Ketua adat dan tokoh masyarakat bermusyawarah dalam mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara tradisi Mammanusang Rai‟.

Dalam musyawarah ini dibicarakan tentang berapa uang yang terkumpul serta waktu dan tempat untuk pembuatan Rakit (perahu), hasil sumbangan dari masyarakat untuk membeli segala keperluan yang dibutuhkan dalam upacara tersebut. Termasuk di dalamnya menentukan hari H pelaksanaan.

Di samping itu juga untuk membentuk panitianya. Setelah acara musyawarah selesai dilakukan dan telah pula ditentukan hari H-nya. maka satu hari menjelang hari H dilakukan persiapan-persiapan yang menyangkut upacara tersebut.

Yang perlu diperhatikan dalam persiapan upacara tradisi tersebut sesuai yang disampaikan oleh ketua adat bapak ismail yaitu rakit (perahu) dan sesajian, sesajian yang harus dipersiapkan, terdiri dari seekor ayam, buras/ketupat, telur, nasi putih, ikan, minyak wangi dan kemenyan.

Pada hari pelaksanaan, semua sesajian yang sudah dipersiapkan disatukan dalam satu wadah atau nampan berisi ketupat/buras, nasi putih dan sesajian lainnya. Setelah seluruh masyarakat tersebut semua berkumpuldan persiapan sudah siap maka sesajian dibawa keatas gunung yang tertinggi di wilayah tersebut dan upacara mammanusang rai‟ pun dimulai.

Upacara dibuka oleh ketua adat setempat dengan membaca basmallah dan mantra-mantra sambil membakar kemenyan yang baunya semerbak sebagai alat wasilah pada yang kuasa.

Setelah itu sesajian di arak ke Sumur kapal(sumur yang dianggap keramat), sesajian diletakan disamping sumur kapal tersebut dan ketua adat membaca mantra-mantra selanjutnya, setelah itu sesajian diarak lagi ke tepi pantai dan semua sesajian dinaikan keatas rakit/kapal yang sudah disiapkan kemudian ketua adat memimpin do‟a meminta pertolongan kepada yang maha kuasa agar dijauhkan dari bala atau musibah dan rakit tersebut dihanyutkan.

Tujuan Mammanusang Rai’

Adapun tujuan tradisi mammanusang rai‟ sesuai yang diutarakan oleh ketua adat, Ismail yaitu:

1. Untuk melestarikan tradisi nenek moyang dan dalam rangka Meminta pertolongan dan perlindungan.

2. untuk mewujudkan keselamatan dan ketentraman masyarakat Dusun Ujung Bulo Desa Karampuang dengan harapan agar tahun berikutnya lebih baik dari tahun sebelumnya.

3. Menjalin silaturrahmi yang mana dapat mempererat tali persaudaraan.

4. Menolak Bala agar bumi selamat dan masyarakat juga selamat.

(adv/adm)

Berita Terkait

HMI Cabang Manakarra dan BPJS Kesehatan Mamuju Edukasi Generasi Muda soal Kesehatan Reproduksi
4 Bulan Sembunyi di Hutan, DPO Pengeroyokan SPBU Tapalang Berhasil Dibekuk Resmob Polresta Mamuju
Berantas Tambang Emas Ilegal, Polresta Mamuju Tahan 4 Tersangka dari Tiga TKP
Gubernur Suhardi Duka Motivasi 1.476 Patriot Muda Tim Ekspedisi Patriot 2026
RSUD Sulbar dan Kemenag Mamuju Teken PKS Tingkatkan Pelayanan Keagamaan
RSUD Sulbar Perkuat Kompetensi Nakes melalui Seminar Sterilitas dan Pengendalian Infeksi
DPRD Sulbar Setujui Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Terima KUA-PPAS 2027 dan Bentuk Panitia Pemilihan Calon Wakil Gubernur
HUT Mamuju ke-486, Bupati Sutinah Dorong Pelestarian Bahasa Daerah Mamuju

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:20 WIB

Bhabinkamtibmas Topoyo Imbau Warga Cegah Karhutla Di Musim Kemarau

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Titik Api Kembali Muncul di Topoyo, Bhabinkamtibmas Padamkan Kebakaran Lahan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:42 WIB

Polri Kawal Semarak Kemerdekaan, Bhabinkamtibmas Karossa Amankan Gerak Jalan 19 Regu Pelajar

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:39 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Karossa Patroli Malam Sisir Titik Rawan Demi Kamtibmas Tetap Kondusif

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:40 WIB

Sambut Hut RI Ke-81, Sat Lantas dan Sat Samapta Polres Mateng Bagikan Sangsaka Merah Putih

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:54 WIB

Polri Bersama Satgas El Nino Tanggap Bencana Pengecekan Posko Malam Hari

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:47 WIB

Bhabinkamtibmas Tinali Sambangi Warga Perkuat Kerukunan dan Waspada Karhutla

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:44 WIB

Polri Bergerak Cepat Tangani Kebakaran Jangkos di Kambunong

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Bhabinkamtibmas Topoyo Imbau Warga Cegah Karhutla Di Musim Kemarau

Minggu, 16 Agu 2026 - 10:20 WIB

x