SULBARPEDIA.COM,- Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) memiliki satu ritual adat yang hanya akan dilakukan 2 tahun sekali pada tahun ganjil. Ritual tersebut bernama Mansossor Manurung atau upacara pencucian keris yang dilakukan oleh Kerajaan Mamuju.
Keris pusaka yang dibersihkan dalam upacara tersebut berasal dari Kerajaan dua Kerajaan, yakni Kerajaan Mamuju dan Kerajaan Badung, Bali.
Tradisi pembersihan keris merupakan peninggalan yang diturunkan dari hubungan Kerajaan Mamuju dan Badung, Bali di masa lampau. Pengertian tradisi Mansossor Manurung sendiri berasal dari kata Mansossor yang memiliki arti penyucian atau pembersihan dan Manurung yang berarti benda kerajaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keris Bernama Manurung, Saudara Kembar Lasalaga
Ritual Mansossor Manurung tak hanya dilakukan oleh orang Mamuju, namun juga oleh masyarakat Bali yang tinggal di daerah Mamuju dengan ritual khas dari Bali. Hal tersebut dilatarbelakangi hubungan keduanya yang sudah terjalin pada Tahun 1500 Masehi.
Menurut legenda, pada masa itu seorang putra mahkota Mamuju bernama Pattolawali yang merupakan anak dari Raja Tommejammeng menikahi putri dari Raja Badung, Bali.

Dilansir dari jurnal Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang berjudul ‘Tradisi Mansossor Manurung di Rumah Adat Sapo Kayyang’. Seiring berjalannya waktu ditengah-tengah putra mahkota dan sang istri lahirlah seorang putra gagah perkasa dan yang diberi nama Lasalaga.
Setelah Lasalaga dilahirkan kemudian mulai beranjak dewasa ia sering menangis dan pengasuh Lasalaga pada saat itu bingung mengapa Lasalaga terus-menerus menangis saat dimandikan.
Suatu ketika pembantu yang ada dirumah Lasalaga masuk kekamar ibunda Lasalaga untuk membersikan kamar dan dikamar itupula Lasalaga dilahirkan tidak lama kemudian tiba-tiba pembatu melihat sebuah keris yang tak jauh dari ibunda melahirkan Lasalaga dan keris itu diselimuti pasir.
Sebelum menjadi keris ternyata itu adalah segumpal darah. Dan gumpalan darah itu diselimuti oleh pasir dengan jangka waktu cukup lama dan menjadi sebuah keris. Kemudian itulah yang dinamakan ‘’ Manurung’’ kembaran dari Lasalaga.
Sekilas keris tersebut berbentuk seperti keris umumnya. Namun keris ini tidak dibuat oleh masyarakat seperti keris-keris lainnya yang dibuat oleh manusia, tetapi keris Manurung ini dilahirkan dalam bentuk darah dan diselimuti oleh pasir yang jangka waktu cukup lama oleh seorang Putri Badung Bali.
Bentuk dari keris ini ialah lurus. Pada hakikatnya setiap keris memiliki tuan tersendiri dan keris ini tuannya adalah kembarannya sendiri yang bernama Lasalaga.
Daya Magis Keris Bernama Manurung
Sebelumnya tidak ada yang mengetaui kekuatan magis keris ini tetapi ada salah satu masyarakat Mamuju memberitahu kepada Raja Lasalaga agar kembarnya dicuci atau dibersikan dan setelah dibersihkan air tersebut ditumpahkan kekebun dan lautan.
Setelah dilakukan penumpahan air bekas cucian keris tersebut dan pada saat itupula masyarakat Mamuju tidak mengalami kekeringan lagi dan hasil nelayan pun menjadi normal seperti biasanya.
Dimana sebelumnya hasil tangkapan nelayan sangat berkurang seketika menumpahkan bekas cucian keris itu maka seketika itupula tangkapan nelayampun seperti biasanya dan sebaliknya dengan perkebunan masyarakat pun menjadi normal kembali.
Sejak saat itu masyarakat setempat
dipercaya memiliki kesaktian tersendiri dan sejak saat itu pula pencucian keris ini dilakukan dalam dua tahun sekali pada tahun ganjil. Sampai sekarang tradisi ini masih dipertahankan karna merupakan warisan dari kerajaan Mamuju.
(adv/adm)











