Oleh: Putri Amaliah Arifin, S.Psi (Mahasiswa Magister Psikologi)
SULBARPEDIA.COM, – Kecemasan dalam memilih karier atau Choose career anxiety, ini adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan cemas, takut dan ragu yang berkelanjutan terkait pilihan dan pengembangan karier di masa depan. Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada satu pertanyaan besar dalam hidupnya: “Mau jadi apa?” Pertanyaan sederhana itu sering kali tidak sesederhana jawabannya. Bagi Generasi Z yang lahir di awal 2000-an, pertanyaan tersebut kini semakin nyata. Mereka sedang memasuki fase dewasa awal—masa penuh eksplorasi, ketidakstabilan, sekaligus kesempatan.
Dalam fase ini, banyak pemuda mulai menata rencana jangka panjang, terutama soal karir. Namun, perjalanan memilih karir ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Ada mereka yang mantap mengejar impian, tapi ada pula yang dihantui kecemasan karena takut salah jalan atau takut penilaian orang lain. Fenomena ini dikenal dengan istilah choose career anxiety, yakni kondisi ketika seseorang ragu, cemas, bahkan tidak mampu berkomitmen pada satu pilihan karir tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketakutan yang Membelenggu
Kecemasan memilih karir muncul dari berbagai bentuk ketakutan. Ada yang merasa tertinggal karena melihat teman-temannya sudah melangkah lebih jauh (fear of missing out atau FOMO). Ada pula yang terus dihantui bayangan penilaian orang lain (fear of negative evaluation atau FNE). Dan yang tidak kalah berat, ada yang selalu dihantui oleh fear of other people’s opinion (FOPO)—takut apa kata orang terhadap pilihannya.
Tiga bentuk ketakutan ini seolah menjadi penjara tak kasat mata yang membuat anak muda kehilangan kepercayaan diri. Padahal, karir seharusnya menjadi jalan untuk berkembang, bukan beban karena standar orang lain.
Mengapa Kecemasan Ini Terjadi?
Psikologi karir menjelaskan bahwa kecemasan dalam memilih pekerjaan tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya:
•Efikasi diri (self-efficacy). Keyakinan pada kemampuan diri adalah pondasi. Ketika seseorang percaya dirinya mampu, ia akan lebih berani menetapkan pilihan. Sebaliknya, hilangnya keyakinan diri membuat langkah terasa buntu.
•Emosi positif. Perasaan optimis dan bahagia mampu menurunkan kecemasan. Sebaliknya, emosi negatif bisa menutup pandangan seseorang terhadap peluang.
•Dukungan sosial. Keluarga, sahabat, dan pasangan berperan besar. Dukungan sederhana saja bisa membuat seseorang lebih tenang menghadapi pilihan.
•Eksplorasi waktu. Tidak semua orang langsung menemukan jalannya. Butuh proses pencarian yang kadang panjang.
• Kecerdasan emosional. Kemampuan mengelola emosi sering kali jadi penentu. Mereka yang mampu mengolah perasaan biasanya lebih bijak dalam membuat keputusan karir.
Faktor-faktor inilah yang sering kali lupa kita sadari, padahal justru menjadi penentu besar dalam perjalanan hidup.
Bagaimana Menghadapinya?
Lantas, apa yang bisa dilakukan agar kecemasan memilih karir tidak terus menghantui?
Pertama, kenali diri sendiri. Apa yang kita sukai, apa yang membuat kita bersemangat, dan apa yang benar-benar ingin kita capai. Kedua, lawan rasa takut dengan membangun emosi positif. Bisa melalui journaling — menulis catatan tentang kekuatan dan pengalaman berharga kita. Ketiga, cari dukungan. Jangan sungkan bercerita kepada orang terdekat atau mengikuti konseling karir. Dan terakhir, jangan berhenti mencoba. Karir bukan jalan lurus, melainkan perjalanan panjang yang penuh liku.
Karir Adalah Perjalanan, Bukan Hanya Pekerjaan
Sering kali kita menganggap karir hanyalah tentang pekerjaan yang menghasilkan uang. Padahal, karir adalah perjalanan mengenali diri sendiri. Di sepanjang jalan itu, kita mungkin salah memilih, jatuh, atau goyah. Tetapi justru dari situlah kita belajar, bertumbuh, dan menjadi lebih kuat.
Maka, jangan biarkan rasa takut akan penilaian orang lain merampas kebebasan kita untuk memilih. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri kita, selain diri kita sendiri.
Pada akhirnya, memilih karir bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan tentang keberanian menjalani jalan hidup yang kita yakini. Karena karir sejatinya bukan sekadar destinasi, melainkan proses menemukan makna.
Penulis : Putri Amaliah Arifin
Editor: Adm/wdy
Penulis : Putri Amaliah Arifin
Editor : Adm/Wdy











