Aktivis Literasi yang Anti Kritik dan Pemikiran Tokoh Pendidikan

- Jurnalis

Sabtu, 3 Juni 2023 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Essay: Aktivis Literasi yang Anti Kritik dan Pemikiran Tokoh Pendidikan

Penulis: Muh.Razak (Ketua Komisariat HMI IAIN Palopo)

Dalam dunia pendidikan, kritik merupakan salah satu instrumen penting untuk evaluasi dan perbaikan sistem yang ada. Namun, belakangan ini muncul kelompok yang mengaku sebagai aktivis literasi, tetapi menunjukkan sikap anti kritik. Salah satu contohnya adalah kejadian di IAIN Palopo, di mana Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) mengeluarkan pernyataan yang mengecewakan sejumlah aktivis literasi (Indeksmedia. 2023)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks ini, penting untuk merujuk pada pemikiran beberapa tokoh pendidikan Indonesia yang dapat memberikan pandangan lebih luas tentang pentingnya kritik dalam dunia pendidikan. Lima tokoh pendidikan yang akan kita bahas dalam essay ini antara lain Ki Hadjar Dewantara, Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini, Maria Montessori, dan Paulo Freire.

Ki Hadjar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, menekankan pentingnya pendidikan karakter yang didasarkan pada ideologi Pancasila. Pendidikan karakter ini mencakup sikap terbuka terhadap kritik dan perbaikan diri.

Dewi Sartika, perintis pendidikan perempuan di tanah Sunda, juga menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan merangkul perbedaan. Dalam konteks ini, kritik dan diskusi terbuka menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang inklusif.

Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan yang berjuang untuk kesetaraan gender dalam pendidikan, menegaskan bahwa perempuan harus memiliki akses yang sama dalam pendidikan, termasuk kesempatan untuk mengkritik dan menyampaikan pendapat mereka
Maria Montessori, pendidik terkenal yang mengembangkan metode Montessori, menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang mendukung kebebasan berpikir dan berekspresi Dalam metode ini, kritik dan diskusi terbuka menjadi bagian penting dari proses belajar.

Terakhir, Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil, mengajarkan konsep “pendidikan pembebasan” yang menekankan pentingnya dialog dan kritik dalam proses belajar Menurut Freire, pendidikan yang benar-benar membebaskan adalah pendidikan yang mengajarkan individu untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat mereka secara terbuka.

Dari pemikiran kelima tokoh pendidikan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kritik merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, sikap anti kritik yang ditunjukkan oleh sekelompok aktivis literasi justru menunjukkan ketidaksesuaian dengan prinsip-prinsip pendidikan yang seharusnya mereka perjuangkan. Sebagai aktivis literasi, mereka seharusnya menjadi contoh dalam menerima kritik dan berdialog secara terbuka untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dan inklusif.

Kemudian dibanding “menyalahkan” ulasan sekaitan dengan fenomena yang ada (pendekatan fenomenologi) tentang kondisi literasi saat ini terkhusus di IAIN Palopo dan juga secara umum. Eloknya tetaplah fokus dalam pergerakan membumikan literasi, baik itu dalam bentuk pojok diskusi, lapak baca, dan sebagainya. Lalu munculkanlah sense of belonging bahwa tanggung jawab menggairahkan kembali literasi di kalangan pemuda ataupun masyarakat merupakan tugas bersama, jadi tidak mesti ada pernyataan bahwa lembaga satu harus dominan tanggung jawabnya sekaitan hal ini.

Selanjutnya bahwa mesti ada kolaborasi, antar lembaga-lembaga yang menyatakan dirinya sebagai lembaga dengan visi intelectual growth melaksanakan teknis pembudayaan literasi ini secara massif.

(@#)

 

Berita Terkait

KAMMI Mamuju Raya Soroti Peredaran Miras di Mamuju
Ironi di Tanah Subur Mamasa: Potensi Emas yang Terpasung Akses dan Keengganan Regenerasi
Balang Nipa – Passokkorang: Sejarah dan Konflik Kerajaan
Peran DSN-MUI Dalam Meningkatkan Literasi Keuangan Syariah di Masyarakat
Rukun dan Syarat Nikah: Antara Kepatuhan Syariat dan Tradisi Sosial
Sosioteologi Hak dan Kewajiban Suami istri dalam Hukum Islam
“Himpak Anna Himanang” Prinsip Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat PUS
Poligami dan Talak di Dunia Islam: Antara Teks Syariah, Negara, dan Keadilan Keluarga

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:36 WIB

Pembangunan RSUD Tipe C Mamuju Tengah Dimulai

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:07 WIB

Wujud Empati dan Kedekatan dengan Warga, Bhabinkamtibmas Desa Bambamanurung Sambangi Rumah Duka Korban Kecelakaan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:02 WIB

Bhabinkamtibmas Desa Polongaan Patroli dan Sambang ke Lahan Perkebunan Warga

Senin, 22 Juni 2026 - 10:57 WIB

Cegah Balap Liar dan Gangguan Kamtibmas, Bhabinkamtibmas Desa Topoyo Sambangi Titik Kumpul Remaja di Dusun Lomba Deko

Senin, 22 Juni 2026 - 10:49 WIB

SE2026, Arsal Aras Sebut Keakuratan Data  Menentukan Meberhasilan Pemerintah

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:46 WIB

Polres Mateng Gelar Turnamen Mobile Legend Meriahkan Menyabut HUT Bhayangkara Ke 80 Tahun

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:45 WIB

Personel Polres Mateng Meriahkan Semarak HUT Bhayangkara dengan Lomba Tangkap Bebek dan Tarik Tambang Antar Satfung

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:06 WIB

Polres Mamuju Tengah Gelar Karya Bakti Bersihkan Pantai Babana Jelang HUT Bhayangkara Ke 80

Berita Terbaru

x