Mamuju di Era Reformasi

- Jurnalis

Rabu, 17 Juli 2019 - 03:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mamuju di era reformasi
By. Ahmadi

Transisi demokrasi merupakan proses yang membutuhkan strategi tersendiri bagi bangsa ini dalam menjawab tantangan di era global. Demikian halnya kabupaten Mamuju pertama kali menggelar pemilihan bupati ditahun 2010 pasca 98 yang menempatkan posisi Al Malik Pababari sebagai Bupati terakhir terpilih melalui DPRD. kekuatan Golkar yang masih mengakar kala itu memenangkan pemilu 1999 mendudukkan berbagai kadernya baik bupati, ketua DPRD Maupun jabatan strategis di birokrasi. Dimasa itulah bermula muncul faksionalisasi di kabupaten paling utara sulawasi selatan.

Jabatan ketua DPRD Mamuju kala itu dipimpin Suhardi Duka memainkan peranan penting dalam merebut kekuasaan di Mamuju. Kondisi pemerintaha mamuju kala itu yang masih bernafas orba dimanfaatkan oleh suhardi duka untuk keluar dari kotak golkar merebut kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perhelatan pilkada pertama langsung oleh rakyat ditahun 2005 Suhardi Duka memiliki berbagai upaya untuk keluar sebagai sintesis atas pertarungan dengan membentuk faksi baru ditengah pesta demokrasi 5 tahunan. sejumlah pejabat dilingkungan pemda diimingi jabatan mentereng jika kelak beliau terpilih hingga melamar Sekda Mamuju untuk jadi wakilnya, penguasaan perananan lembaga non pemerintah seperti peran kampus hingga pelibatan pemuda dalam kancah politik daerah untuk pertama kali bahkan propaganda isu primordialisme cukup berpengaruh mewarnai perhelatan akar rumput munculnya tagline saatnya orang gunung jadi bupati praksis menjadikan pembelahan ditengah masyarakat kala itu, sentilan isu tersebut termodifikasi dengan apik sehingga posisi Al Malik Pababari sebagai kalangan Ningrat Mamuju terdegradasi dengan kekuatan militan dari kelompok pegunungan yang mendiami Mamuju sekira 40% sebagai wangsa terbanyak. disisi lain sang petahana masih percaya diri dengan kekuatan struktural birokrasi dengan mindset orba tidak berbuat banyak akibat dari karakter struktural kala itu laporan asal bapak senang mengantarkan kekalahan ada pilkada 2005. Pemilihan bupati kala itu merupakan pemilihan paling heroik di Mamuju bahkan pembakaran terhadap kantor KPUD Mamuju dilakukan oleh massa pendukung hingga adanya korban berjatuhan. Suasana mencekam di kota Mamuju suara dentuman senjata menggema disudut kota membubarkan massa kandidat.

Terpilihnya Suhardi Duka sebagai bupati Mamuju pertama dipilih langsung oleh rakyat berpasangan dengan mantan sekda Mamuju Umar P, dengan kepiawaian dalam politik meningkatkan peran tim sukses dalam pelibatan birokrasi berbagai keluarga timses direkrut dalam tenaga honorer, pengerjaan proyek hingga merebut partai Golkar itu sendiri. Tidak berhenti disitu penguasaan sejumlah parpol sebagai sarana mendistribusikan loyalis SDK  untuk duduk dalam parlemenpun berhasil dilakukan pada pemilu 2009.

Meski menelan pil pahit di pemilu bupati Sang legendaris Golkar kembali menduduki posisi penting pasca terbentuknya sulawesi Barat, Al Malik Pababari terposisi sebagai anggota DPRD Sulbar Pertama sebagai pengisian DOB dari fraksi Golkar. Faksi inipun masih memiliki kekuatan politik dengan mencalonkannya anak emas beliau Irwan Satya Putra Pababari sebagai cawabup dari Umar P yang merupakan pasangan dari Suhardi Duka pada pilbup sebelumnya. Kekuatan Malik pun kembali bangkit melakukan perlawanan namun kepiawaian politik SDK mampu menutupi seluruh kekurangan yang dialami oleh Al Malik Pababari pada periode sebelumnya kala itu hanya segelintir dari struktural birokrasi berani melawan kekuatan bupati bahkan derasnya arus politik hingga institusi pendidikanpun ketakutan untuk dimutasi para guru yang tidak sejalan takut dimutasi kewilayah terluar Mamuju. Terbentuknya berbagai relawan dengan berbagai latar belakang beragam menempatkan 20 pemilih setiap kelompok relawan di tps untuk menyokong kemenangan sang petahana dan Kekuasaanpun melanjut dengan kemenangan di tahun 2010 oleh SDK berpasangan dengan kepala dinas pertanian alm Bustamin Bausat.

Pada era kepemimpinan periode kedua ini Sang Bupati Mamuju berikhtiar untuk maju dalam perhelatan gubernur sehingga mempersiapkan kaderisasi untuk penggantinya menjadi Bupati. Pada momentum pilbup serentak secara nasional pertama kali tahun 2015. Ditengah popularitas wakil bupati untuk maju dipilbup faksi Al Malik dan Faksi Sdk menyatu dalam kekuatan memenangkan pertarungan Pilkada tersebut kali ini sekda Mamuju Habsi Wahid didorong oleh Faksi SDK sebagai Calon Bupati dan Faksi Al Malik mendorong Irwan SP sebagai wakilnya dan mampu mengalahkan petahana Bustamin – Damris dan Ahmad Appa – Jawas.

Akibat dari kekalahan faksi SDK dalam perhelatan Pilbup tahun 2017 yang di menangkan oleh ABM mantan Bupati Polman 2 periode kelompok SDK kecewa dengan raihan suara di Mamuju dan menjadi awal terbentuknya faksi Habsi di ibukota sulawesi barat. Kubu SDK merasa kecewa atas kekuatan baru tersebut karena sang Bupati mulai membentuk kekuatan politik baru melalui kendaraan Nasdem dan berhasil memenangkan pemilu dengan menempatkan kadernya 9 kursi dari 30 kursi yang diperebutkan menggeser posisi demokrat yang drastis turun menjadi 4 kursi. Tiga Faksi inilah yang akan mewarnai kancah politik pada bursa pemilihan bupati yang di helat tahun 2020.

Faksi SDK melakukan internalisasi gerakan dan menyiapkan kader baru yang tak lain merupakan anak sulung beliau yaitu Sutinah Suhardi untuk menghadapi petahana namun dinamika politik di Mamuju sangat dinamis jika berkaca dari sejarah politik mamuju maka ada catatan catatan BESAR untuk menerawang formasi di 2020 nantinya catatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ketika pilbup Mamuju menggandeng pilgub Sulbar.
Peran ini sangat penting bagi faksi SDK sebagai Kandidat yang akan bertarung kembali di Pilgub mendatang sejatinya harus ada daerah kekuasaan secara politik yang menjadi basis utama sehingga momentum pilbup Mamuju merupakan arah strategis bagi faksi ini. Jika hanya memposisikan sebagai calon wakil bupati maka spektrum gerakan kedepan tentu belum mumpuni karena posisi the second tidaklah terlalu strategis dalam melakukan penguasaan suatu wilayah basis politik. Dan tentunya beliau bukanlah orang sembarang yang dimiliki Mamuju ada kecenderungan akan berupaya sebesar – besarnya untuk mencalonkan Sutinah sebagai Bupati sebagai totalitas gerakan maju demi kekuatan politik SDK.

Meski terbilang belia dalam politik habsi wahid tentunya akan melanggengkan kekuatan politiknya dengan prinsip selagi kekuasaan itu berada digenggaman maka pantang untuk diserahkan kepada siapapun demi menapaki karir politik kedepan bahkan menjadi modal untuk pilgub kedepannya.
Namun siapa sangka jika arus tengah muncul dari tobadak untuk memanfaatkan kontestasi 2020 dan mendesak kekuatan Irwan SP untuk menjadi 01 di Mamuju, dengan munculnya Wacana akan Majunya Aras dalam pilgub mendatang, sudah pasti totalitas klan Aras tidak diragukan apalagi sudah mampu membuktikan anaknya yang berjuang di Pemilu 2019 mengalahkan perolehan suara SDK yang terpaut jauh saat itu.

2. Egosentris Klan Politik
Hadirnya 3 kekuatan Faksi politik di Mamuju dalam catatan sejarah politik Maka hanya Faksi Habsi dan Faksi Irwan SP (malik) yang tidak memiliki sejarah kelam saling berhadapan hal ini sangat dimungkinkan untuk berpasangan kembali dalam kepemimpinan jilid 2 ataukah Faksi Irwan SP menuai kesempatan emas untuk menjadi top leader. Demikian pula wacana yang menghembus dari kelompok faksi SDK menggelinding lama dalam era kepemimpinan Habsi pasca pilgub 2017 dan berlanjut di pemilu 2019 akan sulit untuk bersama sama dalam memenangkan pemilu kepala daerah mendatang

3. Rekonsiliasi Politik Daerah
Kita tahu begitu dinamisnya dinamika politik daerah. Libido untuk berkuasa akan memeras setiap faksi yang ada berjuang hingga tetes darah penghabisan dalam kondisi ini bukan berarti bahwa pilgub mamuju tidak bisa meradang namun opsi ini sangat membutuhkan orang piawai dalam menyatukan kepentingan kepentingan politik yang berjalan sebab telah tercatat dalam sejarah politik mamuju 2 faksi yang berseberangan selama 1 dasawarsa bisa menyatu dalam sebuah kepentingan. Kejadian ini tentu membutuhkan kesadaran bersama orang Mamuju bahwa meski berada pada ibukota provinsi namun kita bagaikan tuan rumah dengan hadirnya Para raja yang mengharuskan kita terdiam sebagai bentuk penghargaan dan karakter orang Mamuju yg sejak dulu terbiasa dengan perbedaan. Kekuatan politik Mamuju kehilangan taring di kancah politik provinsi bahkan Mamuju tak mampu berinteraksi membawa kepentingan daerah ke provinsi dikarenakan kuatnya arus politik dari luar itu sendiri. Oleh karena itu opsi ini sangat diharapkan untuk menunjukkan esensi ke-Mamuju-an dalam membangun peradaban Politik.

 

Topoyo, 17/7/2019

 

 

Berita Terkait

Moderasi Beragama Sebagai Jembatan Mengatasi Perpecahan Bangsa
Aktivis Literasi yang Anti Kritik dan Pemikiran Tokoh Pendidikan
Penyakit Jembrana Tidak Menular ke Manusia
Hegemoni Coattail Effect Menjelang Pemilu 2024
Al-Quds Day: Upaya Merawat Ingatan
Opsi Baru Dari Akhir Interpelasi
Mamuju dan Sampah
Menilik Peran Pemprov Sulbar Pasca Gempa

Berita Terkait

Minggu, 19 Mei 2024 - 15:40 WIB

DPPKB Mamuju Sukses Gelar Ajang Pemilihan Duta Genre 2024, Ini Pemenangnya

Sabtu, 18 Mei 2024 - 13:27 WIB

DPPKB Mamuju Tuntaskan Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi Gelombang Pertama

Jumat, 17 Mei 2024 - 08:02 WIB

Dinkes Catat 271 Calon Jemaah Haji Mamuju Sudah Divaksin Meningitis

Kamis, 16 Mei 2024 - 21:16 WIB

Dinkes Sulbar Terima Kunjungan BPJS Kesehatan untuk Perkuat Sinergi dan Koordinasi

Rabu, 15 Mei 2024 - 22:49 WIB

Dinas PPKB Mamuju Beri Pembekalan 20 Finalis Duta Genre, Ada Pelajar dan Mahasiswa

Rabu, 15 Mei 2024 - 16:32 WIB

DPPKB Mamuju Ungkap Distribusi Alokon di 34 Faskes Capai 45% Selama Januari-Mei 2024

Rabu, 15 Mei 2024 - 12:13 WIB

Dinkes Mamuju Gelar Rakor dan Evaluasi 12 Indikator SPM Bidang Kesehatan

Rabu, 15 Mei 2024 - 07:53 WIB

Dinkes Evaluasi Disiplin Kerja Nakes Puskesmas Tapalang Pasca Sidak Bupati Mamuju

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Arsal Aras Hadiri Milad ke-10 HPPM Mateng Palu

Minggu, 19 Mei 2024 - 18:43 WIB