Desa Banea‘ di Kecamatan Sumarorong Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat, adalah desa yang mayoritas warganya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan. Komoditas kopi dan padi selama ini merupakan tanaman utama para petani di desa tersebut.
Tetapi di balik kebiasaan bertani secara turun-temurun itu, ada tanaman alfukat yang kini telah menunjukkan pesonanya.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil Panen Capai 100 Ton Per Musim
Informasi yang dihimpun media ini, di Kabupaten Mamasa, Desa Banea’ adalah satu-satunya desa yang mampu menyuplay kebutuhan buah alfukat puluhan bahkan ratusan ton setiap musim panen. Kepala Desa Banea’ Thomas Tato saat dihubungi membenarkan informasi tersebut.
“Iya, desa kami mampu menyuplay buah alfukat 100 ton per musim,” kata Thomas.
Thomas menjelaskan, pasokan buah alfukat dari desa Banea’ tidak diragukan. Apalagi dengan akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat, kondisi ini semakin memudahkan para petani alfukat di desa Banea untuk mengangkut hasil perkebunan mereka ke tempat-tempat transaksi dengan pembeli.
Ia mengatakan, saat ini para petani tidak lagi kewalahan untuk memasarkan hasil perkebunan mereka sebab pedagang dari luar Mamasa, bisa datang ke desa Banea’ untuk melakukan transaksi langsung dengan petani.
Thomas juga mengklaim buah alfukat di desa Banea’ memiliki kualitas cita rasa tersendiri yang tentu lebih bagus dibanding buah alfukat di wilayah lain.
Salah satu kelebihan buah alfukat di Desa Banea kata Thomas adalah rasanya yang enak, manis dan bisa dikomsumsi langsung tanpa perlu dicampur dengan susu, gula aren atau bahan pemanis lain.
“Tanpa menggunakan gula, alfukat Banea’ bisa langsung dikomsumsi,” kata Thomas.
Harga Jual Tidak Sesuai Harapan
Namun dibalik pesona hasil panen alfukat yang melimpah itu, petani di Desa Banea’ menghadapi persoalan harga yang masih jauh dari harapan. Harga buah alfukat di Desa Banea’ saat ini berada di kisaran Rp12.000 per kilogram.
Oleh karena itu lanjut Thomas, pemerintah Desa Banea berharap agar pedagang yang masuk ke Desa Banea’ dapat menetapkan harga sesuai dengan harga pasar, agar petani alfukat benar-benar diberdayakan.
Thomas menyebut, lokasi penghasil buah alfukat terbesar di Desa Banea’ ada di Dusun Kanan Hulu dan Dusun Mata Kanan. Dua dusun ini mampu memasok alfukat sebanyak 100 ton per musim.
Upaya Mencari Pasar Untuk Berdayakan Petani
Kata Thomas, saat ini pemerintah Desa Banea sedang berupaya mencari pasar atau perusahaan yang bergerak dibidang industri makanan dan minuman berbahan pokok alfukat untuk diajak kerja sama.
Hal tersebut lanjut Thomas dimaksudkan agar petani alfukat di desanya benar-benar bisa menikmati hasil pertanian mereka dengan penjualan yang tetap dan harga yang memuaskan. (Awt/Guf)











