SULBARPEDIA.COM, Mamuju, – Penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-50 tahun 2025 di Mamuju, Sulawesi Barat, yang semula diharapkan menjadi ajang kebanggaan tuan rumah, justru berakhir dengan catatan memalukan. Sejumlah persoalan mulai dari tunggakan pembayaran hotel, keluhan atlet, hingga hadiah juara yang tak kunjung diserahkan, mencoreng citra Sulbar sebagai tuan rumah Kejurnas.
Kekacauan mencapai puncaknya usai penutupan Kejurnas. Panitia pelaksana dilaporkan dihadang dan dilarang meninggalkan hotel tempat mereka menginap lantaran belum melunasi biaya kamar. Pihak manajemen hotel terpaksa menahan panitia sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tunggakan pembayaran tersebut.
Insiden ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan peserta dan ofisial, sekaligus mempermalukan nama baik Sulbar di tingkat nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah keuangan panitia ternyata juga berdampak langsung pada para peserta dari luar daerah. Sejumlah kontingen, termasuk yang menginap di Hotel Grand Putra, mengaku sudah diminta meninggalkan kamar sehari sebelum penutupan karena tagihan belum dibayarkan oleh panitia.
“Kami datang untuk bertanding, tapi malah diusir karena masalah yang bukan tanggung jawab kami. Tentu sangat mengecewakan,” ujar salah satu ofisial kontingen yang enggan disebutkan namanya.
Selain soal akomodasi, keluhan juga muncul terkait pelayanan konsumsi selama turnamen. Beberapa atlet menilai makanan yang disediakan panitia sering terlambat dan tidak bervariasi, sehingga mengganggu kesiapan mereka dalam bertanding.
Kekecewaan terbesar datang dari kontingen DKI Jakarta yang sukses merebut gelar Juara Umum Kejurnas Catur 2025. Hingga penutupan berakhir, tim Ibu Kota dilaporkan belum menerima hadiah yang dijanjikan panitia.
Mereka hanya memperoleh plakat penghargaan tanpa uang pembinaan yang seharusnya menyertai kemenangan tersebut. Hingga kini, belum ada kejelasan kapan hadiah tersebut akan diberikan.
Di balik kekacauan ini, sumber internal panitia menyebutkan adanya dugaan intervensi pihak luar yang memperparah situasi. Penyelenggaraan Kejurnas dikabarkan tidak sepenuhnya dikelola oleh struktur resmi panitia, melainkan turut diintervensi oleh pihak keluarga dari Ketua Pengprov Percasi Sulbar, Jayadi.
Dugaan campur tangan tersebut disebut-sebut menjadi pemicu utama kekacauan dalam manajemen keuangan dan logistik selama kegiatan berlangsung.
(Adm)












