OPINI : TikTok dan Moderasi Beragama, Ruang Baru Edukasi Toleransi di Era Digital
Penulis: Khairunnisaa (Penyuluh Agama Kecamatan Sarudu)
Moderasi beragama bisa dianalogikan seperti memasak makanan: terlalu banyak garam membuatnya asin, sementara tanpa garam akan terasa hambar. Moderasi mengajarkan kita untuk berada di tengah—tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kekurangan. Prinsip ini sangat relevan dalam konteks kehidupan beragama, terutama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di era digital yang serba cepat, platform seperti TikTok kini menjadi salah satu ruang paling populer di kalangan generasi muda. Format video pendek yang kreatif dan interaktif menjadikan TikTok tidak sekadar sarana hiburan, tetapi juga ruang potensial untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif, termasuk mengenai moderasi beragama.
Tantangan Moderasi Beragama di Era Digital
Moderasi beragama adalah sikap beragama yang menekankan nilai-nilai toleransi, anti-kekerasan, dan penghargaan terhadap keberagaman. Di tengah maraknya fenomena radikalisme dan intoleransi berbasis agama, terutama di negara dengan populasi Muslim terbesar seperti Indonesia, penting untuk terus mendorong pemahaman beragama yang seimbang dan inklusif.
Ajaran Islam sendiri secara jelas mendorong sikap moderat. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 menegaskan bahwa umat Islam adalah ummatan wasathan (umat yang pertengahan), sedangkan Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.” (HR. Al-Baihaqi). Ayat dan hadis ini menunjukkan bahwa keseimbangan dan keharmonisan adalah inti dari keberagamaan yang ideal.
Namun, tantangan datang dari derasnya arus informasi digital yang tidak selalu menyaring nilai-nilai tersebut. Di sinilah peran TikTok menjadi penting—sebagai media yang bisa menjangkau jutaan anak muda secara langsung dan masif.
TikTok: Dari Hiburan Menjadi Ruang Edukasi
Melihat potensi TikTok, Kementerian Agama Republik Indonesia mulai memanfaatkannya untuk menyuarakan kampanye moderasi beragama. Melalui akun resminya, Kemenag rutin membagikan konten-konten edukatif tentang prinsip-prinsip seperti toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap keberagaman. Bahkan, konferensi besar seperti Konferensi Moderasi Beragama kini juga disiarkan melalui TikTok untuk menjangkau generasi digital secara langsung.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk adaptasi pemerintah dalam merespons perubahan pola komunikasi masyarakat, khususnya generasi Z. Tidak hanya pemerintah, sejumlah kreator konten juga turut ambil bagian. Tokoh-tokoh muda seperti Fatma Jauharoh secara aktif mengangkat tema moderasi dalam video pendek mereka, menyuarakan pentingnya hidup rukun dalam keberagaman.
Tantangan dan Tanggung Jawab Bersama
Namun demikian, TikTok juga memiliki sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Algoritma yang mendahulukan konten viral berpotensi membuat pesan-pesan penting seperti moderasi beragama tenggelam di antara konten-konten sensasional. Bahkan, masih ditemukan konten yang justru memicu intoleransi atau menyebarkan stereotip negatif antar kelompok.
Dalam hal ini, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, kreator, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat. Edukasi tentang cara membuat konten yang positif, toleran, dan berbasis nilai-nilai keagamaan yang moderat harus digencarkan. TikTok sebagai platform juga sebaiknya memperkuat fitur moderasi kontennya, serta memberikan ruang lebih bagi video yang mengedukasi dan mendorong harmoni sosial.
Menuju Masa Depan Digital yang Inklusif
Penggunaan TikTok sebagai sarana edukasi bukan tanpa kritik. Beberapa kalangan menilai bahwa format video pendek berisiko menyederhanakan isu kompleks seperti moderasi beragama. Namun, pendekatan ini tetap relevan selama dikemas dengan substansi yang kuat dan pesan yang jelas.
Sebagaimana disampaikan Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid, “Generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu di TikTok dibandingkan membaca buku. Jadi, jika kita ingin menjangkau mereka, TikTok adalah tempatnya.” Pandangan ini menegaskan bahwa dakwah dan edukasi nilai keagamaan harus mengikuti perubahan zaman.
Moderasi beragama bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh agama, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua. Jika dikelola dengan bijak, TikTok dapat menjadi ruang kolaboratif untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih toleran, terbuka, dan damai di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Editor : Adm/wdy












