by

BI: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal Kedua Masih Lambat

Palembang – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini masih melambat, angkanya tidak akan lebih tinggi dari kuartal pertama sebesar 4,7%. Perlambatan ini karena penyerapan anggaran pemerintah di kuartal kedua belum maksimal.

“Gambaran ekonomi kuartal kedua belum menunjukkan kondisi berbeda dengan kuartal pertama. Kuartal kedua seperti kuartal pertama, itu belum menunjukkan perbaikan, kurang lebih sama dengan kuartal pertama,” ujar Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di Hotel Novotel, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis malam (30/7/2015).

Dia melihat, penyerapan anggaran baru akan terserap maksimal di akhir semester kedua tahun ini. Untuk itu, pertumbuhan ekonomi akan terdorong maksimal di akhir tahun.

Dengan itu, BI optimis angka pertumbuhan ekonomi di tahun ini bisa mencapai 5-5,4% dan bisa lebih tinggi di tahun 2016 yaitu 5-5,6%.

“Kita harapkan di semester kedua realisasi penyerapan anggaran bisa lebih tinggi, investasi dan spending lebih baik. Semester kedua lebih baik utamanya belanja pemerintah pusat dan daerah, pertumbuhan ekonomi kita harapkan 5-5,4%,” terang dia.

Agus menyebutkan, realisasi penyerapan anggaran yang maksimal tentu bisa didorong dengan perbaikan pembangunan infrastruktur yang lebih agresif termasuk pengelolaan pangan yang baik.

“Kalau kita bisa memperbaiki daya saing dan pengelolaan pangan kita termasuk infrastruktur, itu semua reformasi struktural supaya Indonesia bisa mengejar pertumbuhan ekonomi yang sehat,” ucap dia.

Saat pengelolaan pangan terjaga, Agus meyakini angka inflasi juga bisa ditekan. BI memproyeksikan angka inflasi di bulan Juli sebesar 1,12% sehingga secara year on year (yoy) angka inflasi masih bisa disasar di level 4 plus minus 1%.

“Minggu keempat belum dapat datanya tapi kita tahu bahwa selama 5 tahun terakhir rata-rata 0,86% dan kita perkiraan di Juli 1,12%, jadi misalnya bisa 0,76% itu pengendalian cukup baik. Inflasi sekarang 7,26% yoy, kita akan jaga di 4 plus minus 1%,” katanya.

Meski begitu, Agus menyebutkan, BI belum akan mengarahkan level suku bunga acuan atau BI rate ke arah yang lebih rendah.

Sejauh tingkat inflasi belum mengarah ke level yang diproyeksikan BI, suku bunga dimungkinkan masih dalam batas yang ditetapkan BI saat ini.

“Suku bunga kalau inflasi sekitar 4-5% kita bicara, harus lihat data (naik atau turun),” jelas Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, selain penyerapan anggaran yang belum maksimal, kondisi perekonomian eksternal memaksa ekonomi Indonesia untuk tumbuh melambat. Harga komoditas yang lesu menekan ekspor Indonesia.

“Memang terjadi kelesuhan ekonomi di Indonesia dan jadi kelesuhan di beberapa daerah termasuk Sumatera. Yang dihadapi dalam ekonomi global muncul permasalahan, bagaimana menjaga stabilitas ekomomi politik dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Kondisi ekonomi global tak menentu,” jelas Perry.

Dia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini dinilai paling rendah dari periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

“Pertumbuhan ekonomi triwulan dua tahun ini paling rendah, paling sulit. Tapi ketahanan ekonomi kita cukup kuat, meski pertumbuhan ekonominya melambat,” sebutnya.

Perry menambahkan, ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan bagi Indonesia, di mana Indonesia dituntut untuk bisa menggerakkan ekonomi dalam negeri lebih baik.

“Mulai triwulan ketiga outlook ekonomi kita akan lebih baik bahkan dalam menengah panjang. Moneter fiskal dan sektor riil, di mana konektivitas jadi penting. Ekonomi global saat ini menjadi challenge membuat kita harus mengandalkan ekonomi dalam negeri. Memang ada risiko banyak dan dampaknya betul-betul sangat berat bagi Indonesia,” pungkasnya.

(drk/hen)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed